Sosialisasi Bahaya Mikroplastik bagi Manusia dan Lingkungan Sekitar

Probolinggo, 07 November 2018 Persatuan Dharmawanita yang diketuai oleh ibu Aman Nike Widiastuti mengadakan pertemuan rutin untuk membahas situasi terkini di Kota Probolinggo dan bagaimana persatuan istri pegawai negeri Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Probolinggo memiliki ruang untuk membantu. Di tengah pertemuan tersebut, hadir Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk mengisi kegiatan tentang Sosialisasi Bahaya Mikroplastik bagi Manusia dan Lingkungan Sekitar, kegiatan ini bertempatkan di Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Probolinggo pada pukul 14.00 s/d 16.00 WIB, kegiatan ini dihadiri oleh 23 peserta yang merupakan karyawan dari Dinas Komunikasi dan Informatika, Anggota Persatuan Dharmawanita. Dan dihadiri oleh narasumber dari Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Publik Universitas Panca Marga Ibu Renny Candradewi M.A.

Dalam pertemuan ini narasumber memberikan materi tentang bahaya mikroplastik bagi manusia dan lingkungan, Mikroplastik adalah partikel plastik yang berukuran kurang dari 5mm dan tidak dapat larut dalam air. Mikroplastik sendiri terbagi menjadi 2 jenis yaitu, mikroplastik sekunder dan primer. Mikroplastik primer adalah sampah yang dihasilkan dari proses penggunaan bahan oleh manusia. Sedangkan mikroplastik sekunder berasal dari bahan baku produksi industri dalam berbagai ukuran yang mencemari lingkungan. Saat ini Indonesia sendiri menyangdang predikat negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia sebanyak 3.22 ton setelah Negara China.

Dampak yang ditimbulkan dari mikroplastik ini sangat banyak bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Data ilmiah yang memaparkan dampaknya pada aspek keamanan pangan juga kesehatan manusia masih terbatas. Untuk itu, diperlukan lebih banyak riset untuk mendapatkan gambaran utuh dampak kontaminasi mikroplastik.

Penelitian terbaru terhadap beberapa orang di Jepang dan beberapa negara Eropa menunjukkan kotoran manusia telah mengandung mikroplastik, plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Temuan ini meningkatkan kesadaran bahwa pangan maupun air minum berpotensi terkontaminasi zat asing bagi tubuh manusia.

Studi ini adalah yang pertama kali menunjukkan keberadaan plastik di usus manusia. Riset lain sebelumnya baru menemukan mikroplastik pada tubuh ikan, udang, kerang, plankton (berupa nanoplastik), garam, dan air kemasan.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam, Jumat (26/10/2018), mengatakan, pada dasarnya mikroplastik adalah benda asing. Ketika masuk ke tubuh dan berada pada saluran pencernaan bisa saja menyebabkan luka pada lambung maupun usus. Jika mikroplastik menempel pada dinding usus bisa menyebabkan peradangan usus atau inflamasi.

Meski penelitian ini tak dilakukan di Indonesia, riset-riset sebelumnya menemukan kandungan mikroplastik pada ikan laut maupun ikan sungai di perairan Indonesia. Di Kali Surabaya, anak Kali Brantas di Jawa Timur, Lembaga Kajian dan Konservasi Ekologi Lahan Basah (Ecoton) menemukan 80 persen dari 103 ikan yang ditangkap periode Juli-September 2018 mengandung mikroplastik. “Kali Surabaya adalah bahan baku air minum di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo telah terpolusi mikroplastik dari limbah industri dan rumah tangga,” kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, Kamis.

Dari informasi kandungan kimia pada badan ikan, bisa diketahui risikonya pada kehidupan ikan tersebut serta rantai makannya, termasuk pada manusia sebagai konsumen tertinggi. Riset-riset terkait paparan kandungan kimia plastik/mikroplastik pada manusia kini mulai dilakukan di negara maju.

Deputi Koordinasi Sumber Daya Manusia, Iptek, dan Budaya Maritim Kementerian Koordinator Kemaritiman, Safri Burhanuddin, di Jakarta, mengatakan, 17 juta ton sampah di Indonesia tak terurus. Sejumlah 1,29 juta ton sampah yang sebagian besar berupa plastik bocor ke laut. Ia mengatakan, pemerintah sangat serius menangani fakta timbulan sampah di laut. Bahkan ditargetkan pada tahun 2025, Indonesia sudah mengurangi 75 persen sampahnya di laut.


Saat ini Indonesia telah berada pada jalur untuk mengurangi dan mengelola sampah. Pengelolaan sampah seperti recyclingatau daur ulang saat ini masih 10-11 persen dari produk sampah yang dihasilkan, akan terus ditingkatkan.

Indonesia membutuhkan investor industri recyclingberteknologi tinggi serta produk tinggi agar bisa mengolah berbagai jenis sampah plastik dan menjualnya dengan harga ekonomis. Selain itu, faktor pendukung seperti perubahan perilaku memilah dan mengumpulkan sampah melalui bank sampah maupun tempat pengumpulan lain juga dilakukan.

Dari sisi regulasi, pemerintah pusat dan daerah telah mendapatkan pekerjaan rumah berupa Peraturan Presiden 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga, baik nasional dan daerah. Di situ ditargetkan penanganan sampah tercapai 70 persen pada 2025.

Kontributor: WAS/RCP/VAN

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Ketua Persatuan Dharmawanita Dinas Komunikasi dan Informatika yang telah berkenan untuk menerima dan mengijinkan sehingga sosialisasi ini dapat terselenggara dengan lancar. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Ibu Yuli dan Mbak Sonnia Larasati yang telah menjembatani komunikasi dengan Dharmawanita Dinas Komunikasi dan Informatika serta segenap undangan yang hadir meliputi seluruh anggota Persatuan Dharmawanita Dinas Kominfo Kota Probolinggo. Kepada seluruh pihak lainnya yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, kami sangat menghargai atas bantuan dan sambutan positifnya semoga kegiatan ini bersifat berkelanjutan untuk kemajuan Kota Probolinggo dan sekitarnya dan Universitas Panca Marga Probolinggo.