Indonesia Menuju Pembangunan Berkelanjutan 2030

PROBOLINGGO- Universitas Panca Marga Jumat, 29 Juni 2018 ini, mata kuliah Teori-teori pembangunan telah genap dilakukan selama pertemuan pasca Ujian Tengah Semester lalu. Peserta kuliah hadir tepat waktu pukul 08.00. Peserta kuliah menampilkan empat presentasi yang dikemas dengan menarik dan menyuguhkan wawasan yang luas.

Pertemuan ke-13 ini mengambil tema yang diekstrak dari Metada Pembangunan SDGs (Sustainable Development Goals). Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau (TPB/SDGs) atau lazim dikenal dengan Agenda 2030 telah dideklarasikan pada tanggal 25 September 2015, bertepatan dengan berlangsungnya United Nations General Assembly (UNGA) di Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa, New york, Amerika Serikat. TPB/SDGs yang cakupan dan substansinya selaras dengan Nawacita, terdiri atas 17 Tujuan dan 169 Target. Tujuan dan target tersebut menggambarkan visi dan ruang lingkup agendapembangunan global yang inklusif dan multidmensi – dua tema besar yang telah dibahas dalam perkuliahan TTP dua pekan yang lalu – yang akan menjadi panduang bagi komunitas global selama 15 tahun ke depan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat global (Gellwynn Jusuf, 2017).

Suasana presentasi kelompok yang tengah mengangkat topik dan studi kasus seputar ambisi Indonesia mencapai Tujuan 16 dalam Pilar Pembangunan Tata Hukum dan Tata Kelola

Guna mewujudkan visi TPB/SDGs, Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui divisi Statistik UN-DESA telah menerbitkan metadata 241 indikator (versi Maret 2016) untuk mengukur pencapaian target TPB/ SDGs. Berdasarkan Metadata Indikator SDGs Global tersebut telah dikembangkan Metadata Indikator Tpb/SDGs Indonesia yang meliputi 17 Tujuan, 169 Target dan 319 Indikator.

Suasana Diskusi Terbuka terkait Pilar Pembangunan Ekonomi

Indikator-indikator SDGs dibagi dalam tiga kategori meliputi kategori pertama adalah indikator yang sesuai dengan indikator global; indikator kedua dadalah indikator nasional sebagia proksi indikator global dan kategori tiga adalah indikator global yang belum didefiniskan dan akan dikembangkan.

Dokumen Metadata Indikator TPB/SDGs Indonesia dibagi dalam empat dokumen dasar yang tidak terpisahkan yaitu (1) dokumen Metada Indikator SDGs Indonesia untk Pilar Pembangunan SOsial yang mencakup tujuan 1, 2,3, 4, & 5; (2) Pilar Pembangunan Ekonomi yang mencakup Tujuan 7,8,9, 10 & 17; (3) Pilar Pembangunan Lingkungan yang mencakup Tujun 6, 11,12,13,14 & 15; (4) Pilar Pembangunan Hukum dan Tata Kelola yaitu tujuaj 16.

Pertemuan ke-13 Mata Kuliah TTP sengaja dirancang untuk membahas setiap pilar pembangunan tersebut. Pembahasan ini merupakan respon akan adanya tuntutan menghadirkan persoalan dan topik yang bersifat kekinian. Kehadiran topik yang kekinian akan membantu mahasiswa tetap uptodate dengan persoalan yang dihadapi Indonesia serta memproyeksikan tantangan yang dihadapi Indonesia di tahun-tahun mendatang.

Terdapat beberapa hal yang dapat dipetik dari diskusi kelas yang berlangsung selama satu setengah jam. Pertama, menyadari pilar pembangunan sosial merupakan implementasi penyegaran ulang dari paradigma pembangunan inklusif yang digagas oleh Presiden Joko Widodo. Kedua, menyadari pilar pembangunan ekonomi merupakan implementasi penyegaran ulang dari paradigma pembangunan ekonomi yang merata dan adil bagi kesejahteraan rakyat banyak. Ketiga, menyadari bahwa pembangunan tidak dapat mengesampingkan daya dukung lingkungan. Lingkungan tidak hadir sebagai korban pembangunan. Sebaliknya pembangunan harus dapat dikemas agar daya dukung lingkungan tidak berkurang dan pemeliharan lingkungan mengakibatkan lingkungan menjadi semakin berkelanjutan. Dengan demikian, generasi mendatang dapat menikmati apa yang dipetik dan dinikmati oleh generasi saat ini. Keempat, menyadari bahwa pilar pembangunan tata hukum dan tata kelola merupakan respon atas tingginya minat terhadap prinsip-prinsip good governance yang baik bagi semua agen pembangunan nasional.

Dengan demikian  dapat disimpulkan bahwa pembangunan berkelanjutan masih menjadi tren masa kini pembangunan di negara-negara di dunia. Semangat ini tidak boleh pupus di taraf konferensi internasional. Sebaliknya, semangat ini harus kian dilafaskan dalam kehidupan masyarakat modern sehingga generasi mendatang dapat menikmati apa yang generasi saat ini dapat nikmati.

ditulis oleh

Renny Candradewi, MA & Mahasiswa